Eben Domaking : Makna Spiritual Puasa Ramadan 1447 H, Jalan Menuju Taqwa dan Kesabaran Umat Islam Indonesia
JURNAL POLISI.NET, KOTA KUPANG - Umat Islam di Indonesia akan segera menyambut bulan suci Ramadan 1447 H. Pemerintah telah menetapkan bahwa 1 Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, dan puasa berlangsung selama 30 hari hingga 20 Maret 2026.
Idul Fitri diperingati pada Jumat, 20 Maret 2026, dan jadwal libur nasional telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri pada 20–24 Maret 2026.
Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan atau kewajiban formal keagamaan. Ramadan adalah ruang perjumpaan antara hamba dan Sang Khaliq, antara manusia dan nuraninya.
Ibadah puasa mengajarkan kita bahwa iman itu hidup dan ia bisa bertambah dan berkurang. Sebagaimana baterai yang memerlukan daya untuk tetap menyala, demikian pula iman membutuhkan “charge” spiritual agar tetap kuat. Ramadan adalah momentum pengisian daya itu.
Nilai spiritual pertama dari puasa adalah refleksi keimanan. Saat seseorang menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari, sesungguhnya ia sedang membuktikan kepatuhan total kepada Allah SWT. Tidak ada yang mengawasi secara langsung selain keyakinan dalam dirinya. Inilah wujud kejujuran iman yang sejati.
Kedua, puasa menumbuhkan rasa syukur. Kita sering menikmati nikmat umur, kesehatan, rezeki, dan kesempatan tanpa benar-benar menyadarinya. Ketika lapar dan dahaga dirasakan, manusia belajar memahami arti nikmat yang selama ini dianggap biasa. Puasa membangunkan kesadaran bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah anugerah dari Allah SWT yang patut disyukuri.
Ketiga, puasa adalah madrasah rohani. Ia mendidik jiwa untuk lebih tenang, lebih jernih, dan lebih dekat kepada Sang Pencipta. Dalam suasana Ramadan, manusia diajak menundukkan hawa nafsu, mengendalikan syahwat yang tidak pada tempatnya, serta menghidupkan nafsu mutmainnah—jiwa yang tenang. Dari sini lahir pribadi yang lebih arif dan bijaksana.
Keempat, tujuan akhir puasa adalah meraih taqwa. Taqwa bukan sekadar konsep, melainkan kualitas diri yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Orang yang bertaqwa tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga jujur, adil, peduli, dan bertanggung jawab. Ramadan menjadi laboratorium pembentukan karakter itu.
Kelima, puasa melatih kesabaran dan ketabahan. Dalam kehidupan sosial yang penuh tantangan, kemampuan mengendalikan emosi dan amarah menjadi sangat penting. Puasa mengajarkan kita untuk tidak mudah tersulut, untuk tetap sabar menghadapi perlakuan orang lain, serta untuk menjaga integritas diri, baik di tengah keramaian maupun dalam kesendirian.
Pada akhirnya, Ramadan 1447 H hendaknya tidak berhenti sebagai ritual tahunan. Ia harus menjadi energi perubahan, baik secara personal maupun sosial. Jika setiap Muslim mampu membawa nilai-nilai Ramadan ke dalam kehidupan sehari-hari, maka akan lahir masyarakat yang lebih beriman, lebih bersyukur, lebih sabar, dan lebih peduli terhadap sesama.
Semoga Ramadan kali ini benar-benar menjadi momentum perbaikan diri dan penguatan nilai kemanusiaan bagi kita semua. Selamat menyambut Ramadan 1447 H bagi seluruh saudara saya umat muslim di seluruh NTT, Mohon Maaf Lahir & Batin. Salam persaudaraan!
Penulis: Eben Domaking (Praktisi Media & Ketua PWMOI Kabupaten TTU)


.png)
.jpg)